SIDOARJO | JWI – Setelah lima tahun vakum tanpa perayaan malam tahun baru terbuka, Kabupaten Sidoarjo kembali menghidupkan ruang publik melalui gelaran “Malam Sidoarjo Bersama: Cerita yang Menyatukan”. Acara tersebut dijadwalkan berlangsung pada 31 Desember 2025 di Area Parkir Timur GOR Kabupaten Sidoarjo.
Kegiatan ini menjadi penanda kebangkitan tradisi perayaan publik di Sidoarjo sekaligus momentum mempererat kebersamaan antara pemerintah daerah, pelaku seni, dan masyarakat. Tidak sekadar hiburan pergantian tahun, acara ini dirancang sebagai ruang temu bersama untuk merayakan, merefleksi, dan menyambut masa depan Sidoarjo secara kolektif.
Ketua Panitia Penyelenggara, Nanang Haromain, menegaskan bahwa perayaan ini mengusung semangat kebersamaan dan keterbukaan ruang publik.
“Ini adalah malam kebersamaan. Malam ketika warga Sidoarjo bisa menyambut tahun baru tidak sendiri-sendiri, tetapi bersama, dalam satu ruang dan satu cerita,” ujarnya.
Selain perayaan malam tahun baru, kegiatan ini juga dikemas sebagai Malam Apresiasi Seniman Sidoarjo, hasil kolaborasi Dewan Kesenian Sidoarjo (Dekesda) dan PAMDI Kabupaten Sidoarjo. Kolaborasi tersebut menjadi simbol kerukunan antarseniman sekaligus wujud kedekatan seni dengan masyarakat.
Rangkaian acara akan menampilkan kekayaan seni dan budaya lokal secara utuh dan berlapis. Di antaranya pertunjukan Jaranan HIPREJS, Tari Massal Remo Munali Patah yang melibatkan puluhan penari, Ludruk Opera Sekar Kawedhar, hingga hiburan populer melalui Orkes Dangdut Avita, grup orkes legendaris asal Sidoarjo.
Sejumlah penyanyi potensial lokal juga turut memeriahkan panggung.
Menjelang pergantian tahun, acara akan ditutup dengan pesan dan doa bersama sebagai refleksi kolektif atas perjalanan Kabupaten Sidoarjo sepanjang tahun 2025, sekaligus harapan agar di tahun 2026 Sidoarjo menjadi daerah yang lebih rukun, maju, dan berdaya saing.
Dengan mengusung semangat kebersamaan, “Malam Sidoarjo Bersama” diharapkan menjadi titik awal lahirnya kembali tradisi perayaan publik yang sehat, inklusif, dan berakar pada budaya lokal—bukan sekadar pesta, melainkan ruang perjumpaan antara seni, rakyat, dan masa depan daerah.(*)





















