SIDOARJO | JWI – Kondisi Rumah Susun Sederhana Sewa (Rusunawa) Tambak Kemerakan, Kecamatan Krian, Kabupaten Sidoarjo, kian memprihatinkan. Dari total 115 unit kamar yang tersedia, kini hanya sekitar 30 kepala keluarga (KK) atau sekitar 20 persen yang masih bertahan menempatinya. Sisanya memilih pergi karena fasilitas rusun dinilai tidak layak huni.
Ketua RT 11 RW 03 Rusunawa Tambak Kemerakan, Misyiadi, menyebut rendahnya tingkat hunian itu bukan karena sepi peminat, melainkan akibat buruknya kondisi sarana dan prasarana.
“Banyak yang mau sewa, Pak. Tapi air krannya tidak jalan, lampu umum banyak mati, toilet mampet. Baru sebulan tinggal, mereka komplain lalu keluar,” ujar Misyiadi, Selasa (6/1/2026).
Ia menegaskan, sejak sebelum pandemi Covid-19 hingga kini, persoalan mendasar itu tak pernah benar-benar diselesaikan. Warga bahkan terpaksa mengambil air dari luar rusun karena air di dalam gedung tidak bisa digunakan.
Melihat kondisi tersebut, Misyiadi bersama pengurus kemudian menggelar rapat warga.

Dari pertemuan yang dihadiri 30 penghuni itu, disepakati 11 tuntutan yang kemudian diajukan secara resmi ke Pemerintah Kabupaten Sidoarjo melalui Dinas Permukiman.
Adapun tuntutan warga meliputi:
- Perbaikan penerangan di dalam rusun.
- Penyediaan air bersih dan sanitasi layak.
- Perawatan gedung.
- Bantuan bagi warga tidak mampu.
- Bantuan untuk anak sekolah.
- Perbaikan saluran listrik dan pipa air.
- Jaminan kesehatan.
- Penanganan listrik rusunawa yang belum ditindaklanjuti.
- Perbaikan PJU jalan yang banyak mati.
- Penambahan tenaga pengelola gedung.
- Penambahan petugas kebersihan
“Kami sudah sering mengadukan ini ke UPT Rusunawa, tapi tidak ada respon. Bahkan Agustus 2025 lalu kami sudah didatangi anggota DPRD Sidoarjo, tapi kondisi tetap tidak berubah. Kami bingung mau mengadu ke mana lagi. Beginilah nasib orang kecil, seperti dianaktirikan,” keluh Misyiadi.
Ia menegaskan, petisi yang disampaikan warga bukan untuk mencari sensasi, melainkan bentuk keputusasaan karena hak dasar sebagai penghuni rusun tak kunjung dipenuhi.
Keluhan warga itu mendapat sorotan dari Anggota Komisi B DPRD Sidoarjo, Supriyono, SH dari Partai Gerindra. Ia menilai kondisi Rusunawa Tambak Kemerakan sangat ironis di tengah tingginya kebutuhan hunian layak di Sidoarjo.
“Bangunan besar lima lantai ini sayang kalau dibiarkan mangkrak dan tidak terawat. Masih banyak warga yang tinggal di tempat tidak layak. Seharusnya rusunawa ini bisa menjadi solusi,” kata Supriyono.
Menurutnya, persoalan utama bukan pada lokasi, melainkan pada kualitas fasilitas dan lemahnya pengelolaan.
“Kalau airnya bersih, toiletnya lancar, listriknya normal, pasti peminatnya banyak. Masalahnya sekarang warga sudah bayar sewa, tapi fasilitas tidak layak. Ya wajar kalau mereka memilih pindah,” tegasnya.
Warga Rusunawa Tambak Kemerakan berharap Pemkab Sidoarjo segera turun langsung melakukan evaluasi dan perbaikan menyeluruh, agar rusun yang dibangun dengan uang rakyat itu benar-benar menjadi hunian layak, bukan sekadar gedung kosong yang dibiarkan rusak.
Reporter : Sugi JWI






















