30 Perguruan Pencak Silat Bersatu di Sidoarjo, IPSI Targetkan 5 Emas Gubernur Cup 2026

SIDOARJO | JWI – Ratusan pendekar dari 30 perguruan pencak silat di Kabupaten Sidoarjo menunjukkan komitmen memperkuat persaudaraan sekaligus menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Komitmen tersebut ditegaskan dalam Apel Kebangsaan Pendekar Pencak Silat yang digelar di Parkir Timur GOR Sidoarjo, Minggu (13/9/2026).

Kegiatan ini tidak hanya menjadi ajang mempererat persatuan antarperguruan, tetapi juga digelar dalam rangka memperingati Hari Olahraga Nasional (Haornas) serta memperkuat sinergi insan pencak silat dengan unsur TNI dalam menjaga keamanan dan kondusivitas wilayah Kabupaten Sidoarjo.

Suasana persaudaraan terlihat sejak apel dimulai. Para pendekar dari berbagai perguruan berdiri dalam satu barisan meskipun mengenakan warna seragam dan atribut yang berbeda.

Perbedaan tersebut justru ditegaskan sebagai kekuatan yang harus dirawat bersama.

Dalam amanat Pembina Apel yang disampaikan Pj Sekretaris Daerah Kabupaten Sidoarjo, Ainur Rohman, para pendekar diminta tidak menjadikan perbedaan perguruan sebagai alasan untuk terpecah.

“Perbedaan warna yang ada di depan saya bukan menjadi pembeda. Kalau kita melihat pelangi di langit, indah karena warnanya berbeda-beda. Begitu juga kita para pendekar yang ada di sini. Kita menjadi hebat dan kuat karena kita berbeda,” ujar Ainur.

Pendekar Diminta Jadi Pelopor Perdamaian

Ainur juga menyampaikan pesan Bupati Sidoarjo agar pencak silat tidak identik dengan tawuran maupun aksi kekerasan.

Menurutnya, keberadaan perguruan pencak silat justru harus memberikan manfaat bagi masyarakat melalui semangat persaudaraan, kedamaian dan gotong royong.

“Sidoarjo tidak mengenal budaya tawuran. Sidoarjo tidak mengenal budaya untuk saling berkelahi. Sidoarjo adalah kabupaten yang penuh dengan cinta damai, kekeluargaan dan gotong royong,” tegasnya.

Ia mengingatkan bahwa perjuangan generasi saat ini bukan lagi menghadapi penjajahan secara fisik. Tantangan yang harus dihadapi adalah bagaimana mengisi kemerdekaan melalui berbagai kegiatan positif dan membangun kualitas sumber daya manusia.

Dalam konteks tersebut, pencak silat dinilai memiliki peran strategis dalam membentuk karakter generasi muda sekaligus menjaga keberlangsungan warisan budaya bangsa.

Pencak silat juga telah mendapatkan pengakuan UNESCO sebagai Warisan Budaya Takbenda pada 2019.

“Musuh kita sekarang bukan penjajah lagi. Musuh kita adalah bagaimana memberantas kebodohan, kemiskinan, mewujudkan kesejahteraan dan menunjukkan kepada dunia bahwa jati diri pendekar pencak silat Indonesia adalah sesuatu yang membanggakan,” katanya.

Bela Diri untuk Membela, Bukan Menyerang

Pesan menjaga persatuan juga disampaikan Komandan Kodim 0816 Sidoarjo Letkol Inf. Abraham Prihadi,S.H.,M.H. Para pendekar diminta menggunakan kemampuan bela diri secara bertanggung jawab dan tidak terlibat dalam tindakan yang dapat merugikan diri sendiri maupun masyarakat.

Menurutnya, hakikat bela diri adalah kemampuan untuk mempertahankan diri, bukan digunakan untuk melakukan penyerangan.

“Bela diri ini digunakan untuk pertahanan, bukan untuk menyerang. Karena itu, saya meminta rekan-rekan semua berada di garis depan untuk menjaga situasi agar tidak ada kegiatan negatif,” pesannya.

Ia juga mengingatkan seluruh perguruan agar tidak terlibat tawuran maupun aksi saling serang.

“Bela diri, bela lingkungan, bela daerah. Dengan kemampuan yang ada di tangan semuanya, tolong bertanggung jawab. Tidak ada tawuran, tidak ada kegiatan negatif, tidak ada saling menyerang antarperguruan,” tegasnya.

Selain menjaga keamanan dan ketertiban, para pendekar juga diharapkan ikut mempertahankan pencak silat sebagai seni dan budaya yang diwariskan para sesepuh kepada generasi penerus.

IPSI Sidoarjo Bidik Lima Medali Emas

Sementara itu, Ketua IPSI Kabupaten Sidoarjo Anang Siswandoko mengatakan Apel Kebangsaan Pendekar menjadi momentum penting untuk memperkuat persatuan 30 perguruan pencak silat sekaligus mempersiapkan atlet menghadapi agenda kompetisi berikutnya.

Salah satu agenda terdekat adalah Kejuaraan Gubernur Cup yang rencananya digelar pada November 2026. Dalam ajang tersebut, Kabupaten Sidoarjo mendapat kepercayaan menjadi tuan rumah.

“Alhamdulillah Sidoarjo dipercaya menjadi tuan rumah. Dengan diberikan kepercayaan itu, kami para pesilat dari seluruh perguruan siap menjaga keamanan dan ketertiban dalam pelaksanaan kegiatan,” ujarnya.

Sebagai tuan rumah, IPSI Sidoarjo tidak ingin hanya menjadi penyelenggara. Prestasi atlet juga menjadi target utama.

IPSI Sidoarjo membidik sedikitnya lima medali emas dan menargetkan finis di posisi dua besar.

“Kita akan mengirim atlet sebanyak mungkin untuk kejuaraan Gubernur Cup. Target kita tetap lima medali emas karena kita menjadi tuan rumah. Insyaallah targetnya dua besar,” katanya.

Anang menegaskan, target tersebut harus diikuti dengan persiapan yang serius. Pembinaan atlet dari berbagai perguruan perlu terus ditingkatkan agar mampu membawa nama Sidoarjo tidak hanya di tingkat regional, tetapi juga nasional hingga internasional.

“Kita ingin mencetak atlet-atlet nasional dan internasional. Sidoarjo pernah melahirkan juara dunia. Maka di era kita saat ini, kita harus bisa melahirkan kembali juara-juara dunia dari Kabupaten Sidoarjo,” tegasnya.

IPSI Gagas Padepokan Bersama 30 Perguruan

Selain fokus pada prestasi olahraga, IPSI Kabupaten Sidoarjo juga menggagas pembangunan padepokan pencak silat yang dapat menjadi ruang bersama bagi 30 perguruan.

Padepokan tersebut diharapkan menjadi pusat berkumpul, pembinaan atlet, pengembangan seni gerak pencak silat sekaligus sarana pelestarian budaya.

“Kami dari 30 perguruan menginginkan adanya sebuah padepokan, tempat berkumpul untuk menciptakan dan mengembangkan seni gerak serta ilmu silat. Kami menginginkan Pemerintah Kabupaten Sidoarjo mendukung adanya tempat tersebut,” ungkap Anang.

Menurutnya, rencana tersebut masih dalam tahap komunikasi dengan Pemerintah Kabupaten Sidoarjo. Salah satu kawasan yang menjadi pertimbangan adalah wilayah Lingkar Timur Sidoarjo, namun keputusan mengenai lokasi masih membutuhkan pembahasan lebih lanjut.

Dukungan pemerintah daerah, baik eksekutif maupun legislatif, diharapkan dapat membuka peluang terwujudnya padepokan tersebut, termasuk melalui pemanfaatan aset dan dukungan anggaran sesuai ketentuan.

Jika terealisasi, padepokan tersebut diharapkan tidak hanya menjadi pusat pembinaan pencak silat, tetapi juga dapat berkembang sebagai ruang seni dan budaya yang terbuka bagi masyarakat.

“Kalau ini terwujud, kita sebagai warga Sidoarjo akan bangga memiliki padepokan seni untuk melihat berbagai pentas seni yang ada di wilayah Kabupaten Sidoarjo. Kita memiliki aset besar, yaitu 30 perguruan pencak silat,” tuturnya.

Berbeda Perguruan, Tetap Satu untuk NKRI

Apel Kebangsaan Pendekar Pencak Silat tersebut menjadi penegasan bahwa keberagaman perguruan bukanlah sumber perpecahan, melainkan kekuatan yang harus dirawat bersama.

Para pendekar diharapkan mampu menunjukkan bahwa pencak silat bukan semata-mata kemampuan bela diri. Di dalamnya terdapat nilai persaudaraan, disiplin, sportivitas, karakter, seni, budaya dan kecintaan terhadap bangsa serta negara.

Semangat yang dibangun dalam apel tersebut pun menjadi pesan bersama: berbeda perguruan, berbeda warna dan berbeda atribut, tetapi tetap satu dalam persaudaraan dan satu tekad menjaga NKRI.

Dengan semangat tersebut, IPSI Sidoarjo optimistis pencak silat dapat terus berkembang sebagai cabang olahraga berprestasi sekaligus warisan budaya yang membanggakan Kabupaten Sidoarjo dan Indonesia. (*).

Reporter : Sugi

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *