Guru di Candi Sidoarjo Belajar AI dan Augmented Reality untuk Perkuat Pembelajaran di Era Digital

SIDOARJO | JWI – Perkembangan teknologi digital mendorong guru untuk terus meningkatkan kompetensi, termasuk dalam memanfaatkan kecerdasan artifisial atau artificial intelligence (AI) dan augmented reality (AR) sebagai bagian dari proses pembelajaran.

Namun, pemanfaatan teknologi di lingkungan pendidikan tidak cukup hanya dengan menguasai perangkat dan aplikasi. Guru juga dituntut memahami batasan, risiko, keamanan, serta etika penggunaan teknologi agar dapat diterapkan secara tepat dan bertanggung jawab.

Hal tersebut menjadi salah satu pokok bahasan dalam kegiatan Diseminasi PGRI Power dan Pelatihan Pembuatan Media Pembelajaran Augmented Reality (AR) di Era Digital yang digelar PGRI Cabang Candi di Aula SMP Negeri 2 Candi, Sidoarjo, Rabu (30/9/2026).

Kegiatan tersebut diikuti lebih dari 80 pendidik dari jenjang TK, SD, dan SMP se-Kecamatan Candi. Para peserta mendapatkan materi mengenai pemanfaatan AI, platform pembelajaran digital, hingga praktik pembuatan media pembelajaran berbasis augmented reality.

Kepala SMPN 2 Candi, Sri Nafiah, mengapresiasi kegiatan yang dinilai penting untuk meningkatkan kompetensi pendidik di tengah perkembangan teknologi digital.

Sebagai kepala sekolah yang baru bertugas di Kecamatan Candi, Sri menyatakan siap bergabung dan berkolaborasi dengan PGRI Cabang Candi. Sebelumnya, ia merupakan bagian dari PGRI Cabang Sedati.

Sementara itu, Ketua Kelompok Kerja Kepala Sekolah (K3S) Kecamatan Candi, Siti Rumingsih, mengatakan karakter peserta didik terus mengalami perubahan seiring perkembangan teknologi.

Menurutnya, generasi Z dan generasi Alpha tumbuh dalam lingkungan yang dekat dengan perangkat serta ekosistem digital. Kondisi tersebut membuat dunia pendidikan perlu menyesuaikan metode pembelajaran tanpa mengabaikan aspek pendampingan dan pengawasan.

“Di era Gen Z dan Gen Alpha, pembelajaran sudah harus menggunakan digital. Tetapi penggunaannya harus benar-benar bijaksana. Kita harus bisa memilih mana yang memang perlu dan mana yang tidak perlu digunakan,” kata Siti.

Ketua PGRI Cabang Candi, Nur Rosyid, menyampaikan apresiasi kepada para guru yang telah menorehkan prestasi dalam ajang AGP dan INOBEL PGRI.

Ia mengatakan PGRI Cabang Candi terus mendorong kolaborasi dengan berbagai organisasi dan komunitas pendidikan. Kolaborasi tersebut melibatkan IGTKI, K3S SD, dan MGMP SMP se-Cabang Candi.

“Kolaborasi menjadi bagian penting untuk bersama-sama meningkatkan kualitas pendidikan,” ujar Nur.

Kegiatan tersebut dibuka oleh Pengawas Korwil Candi, Eny Wahyudati. Ia menyampaikan dukungan terhadap berbagai program PGRI Cabang Candi, sekaligus mengingatkan para pendidik untuk terus memberikan kontribusi sesuai dengan peran masing-masing.

“Setiap masa ada orangnya dan setiap orang ada masanya,” tuturnya.

Dalam kesempatan itu, Eny juga membagikan pengalaman ketika meraih prestasi sebagai guru berprestasi tingkat nasional pada 2009. Menurutnya, prestasi dan pengabdian dapat diraih pada berbagai tahap perjalanan karier seorang pendidik.

Guru Didorong Memahami Risiko Pemanfaatan AI

Materi utama disampaikan Fidi Handoko, guru SDN Tenggulunan, melalui materi bertajuk “AI for Teacher: Guru Hebat Membangun Pendidikan.”

Fidi mengajak para guru memahami pemanfaatan AI secara lebih menyeluruh. Menurutnya, penggunaan AI dalam pendidikan tidak berhenti pada pengenalan perangkat atau aplikasi kepada peserta didik.

Guru juga perlu membekali siswa dengan pemahaman mengenai risiko, keterbatasan, keamanan, dan etika dalam menggunakan teknologi berbasis AI.

Dalam konteks pendidikan, teknologi bukan sekadar alat bantu. Peran guru tetap diperlukan untuk mengarahkan peserta didik agar mampu menggunakan teknologi secara tepat, kritis, dan bertanggung jawab.

Pelatihan kemudian diselingi kegiatan ice breaking yang dipandu Dini Aji, guru SDN Balonggabus. Kegiatan tersebut membuat suasana pelatihan lebih interaktif sebelum peserta mengikuti materi berikutnya.

Materi selanjutnya disampaikan M. Arwani Muslim, guru SDN Sugihwaras. Ia memperkenalkan Erunex PGRI Power, sebuah learning management system (LMS) atau platform manajemen pembelajaran digital bagi guru Indonesia.

Erunex merupakan bagian dari ekosistem PGRI Power atau PGRI Smart Learning & Character Center. Platform tersebut dirancang untuk mendukung pembelajaran daring yang terstruktur, fleksibel, dan berkelanjutan.

Selain mendukung pembelajaran digital, platform tersebut juga dapat dimanfaatkan untuk pengembangan kompetensi profesional guru, termasuk dalam bidang AI, coding, dan berbagai aktivitas digital lainnya.

Praktik Membuat Media Pembelajaran Berbasis AR

Materi terakhir disampaikan Salma Nabila melalui pelatihan pembuatan media pembelajaran berbasis augmented reality.

Para peserta tidak hanya mendapatkan pemahaman secara teori, tetapi juga dikenalkan pada penerapan teknologi AR sebagai media pembelajaran yang dapat membuat proses belajar lebih interaktif dan kontekstual.

Salah satu peserta, Astrid, guru SDN Kedungkendo, mengaku mendapatkan banyak pengetahuan baru dari kegiatan tersebut.

“Banyak sekali pembelajaran yang saya dapat hari ini. Insyaallah ilmu yang diperoleh bisa diterapkan kepada murid-murid,” ujarnya.

Ia juga menyampaikan terima kasih kepada para narasumber dan panitia PGRI Cabang Candi yang telah menyelenggarakan kegiatan tersebut.

Pelatihan tersebut menjadi ruang bagi para pendidik untuk memperkuat kompetensi digital sekaligus merefleksikan kembali peran guru di tengah pesatnya perkembangan teknologi.

Pemanfaatan AI dan augmented reality diharapkan tidak menggantikan peran guru, melainkan menjadi sarana untuk memperkaya metode pembelajaran, meningkatkan interaksi di kelas, serta membantu peserta didik memperoleh pengalaman belajar yang lebih kontekstual dan sesuai dengan perkembangan zaman. (AWK)

Tim Java Watch Indonesia

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *