SIDOARJO | JWI – Festival Munali Patah 2026 di Paseban Alun-Alun Sidoarjo, Sabtu (17/10/2026), menjadi momentum untuk memperkuat pelestarian seni tradisional Jawa Timur. Salah satu peserta yang turut ambil bagian adalah Angkin Shalqiamna Kusuma Asfandhy, siswi kelas VIII SMP Negeri 6 Sidoarjo sekaligus Finalis Putri Pertiwi Jawa Timur 2026 yang mewakili Kabupaten Sidoarjo.
Festival bertema “Menghidupkan Tradisi, Menyatukan Generasi” tersebut menghadirkan beragam pertunjukan seni, dengan agenda utama Tari Remo Munali Patah secara massal. Ketua Dewan Kesenian Daerah (Dekesda) Sidoarjo, Ribut Wijoto, menyebut jumlah penari yang telah menyatakan kesiapan tampil mencapai sekitar 600 orang dan masih berpotensi bertambah.

Peserta tidak hanya berasal dari Kabupaten Sidoarjo, tetapi juga dari sejumlah daerah lain, di antaranya Pasuruan, Surabaya, Mojokerto, dan Malang. Keterlibatan lintas daerah ini memperlihatkan luasnya perhatian terhadap pelestarian Tari Remo sebagai bagian dari kekayaan budaya Jawa Timur.
Ribut Wijoto Ungkap Sejarah Tari Remo Munali Patah
Ketua Dekesda Sidoarjo, Ribut Wijoto, menjelaskan bahwa pada masa lalu, hingga sekitar 1960, Tari Remo masih melekat pada pertunjukan ludruk. Durasi tariannya saat itu sekitar 30 menit.
Perkembangan kemudian terjadi melalui peran Munali Patah, maestro tari asal Desa Banjarkemantren, Kecamatan Buduran, Kabupaten Sidoarjo. Munali Patah menyederhanakan bentuk Tari Remo dan memperpendek durasinya menjadi sekitar 10–15 menit.

Penyederhanaan tersebut melahirkan gaya Tari Remo Munali Patah yang kemudian dapat dipentaskan secara mandiri, tidak lagi terbatas sebagai bagian dari pertunjukan ludruk.
“Dulu, sampai sekitar tahun 1960, Tari Remo hanya melekat di pertunjukan ludruk. Durasinya sekitar 30 menit. Kemudian oleh Munali Patah, Tari Remo disederhanakan dan durasinya diperpendek menjadi antara 10 sampai 15 menit,” demikian penjelasan Ribut Wijoto berdasarkan keterangan yang disampaikan kepada redaksi.
Perubahan tersebut membuka ruang lebih luas bagi Tari Remo untuk tampil dalam berbagai kesempatan. Seiring perkembangannya, muncul beragam gaya Tari Remo yang memperkaya khazanah kesenian tradisional Jawa Timur.
Ribut juga menjelaskan bahwa Munali Patah merupakan maestro yang lahir dan meninggal dunia di Desa Banjarkemantren, Kecamatan Buduran, Kabupaten Sidoarjo. Warisan keseniannya menjadi bagian penting dari sejarah perkembangan Tari Remo di daerah tersebut.
Tari Remo Massal, Libatkan Penari dari Berbagai Daerah
Festival Munali Patah 2026 menjadi salah satu upaya menghadirkan kembali warisan seni tersebut melalui keterlibatan masyarakat secara luas. Ratusan penari dijadwalkan tampil bersama di Alun-Alun Sidoarjo pada 17 Oktober 2026.

Dengan sekitar 600 penari yang telah siap berpartisipasi, kegiatan ini diharapkan tidak sekadar menjadi pertunjukan kolosal, tetapi juga sarana memperkenalkan sejarah dan perkembangan Tari Remo kepada generasi muda.
Keterlibatan penari dari Pasuruan, Surabaya, Mojokerto, dan Malang turut menunjukkan bahwa kesenian tradisional dapat menjadi jembatan kebersamaan antardaerah.
Selain pertunjukan Tari Remo massal, rangkaian festival juga menampilkan pertunjukan sastra dari Pena Perajut Aksara, Songgo Seni, dan Teater Ujung Movement, musik angklung dari Grup Angklung LP2KN, musik keroncong New Anggrek 5 Jari, serta Munali Patah Award.
Angkin: Generasi Muda Harus Bangga Menarikan Tari Remo
Bagi Angkin Shalqiamna Kusuma Asfandhy, keterlibatan dalam Festival Munali Patah 2026 menjadi pengalaman berharga untuk mengenal lebih dekat seni dan budaya daerah.
Saat dikonfirmasi Java Watch Indonesia, Angkin menyampaikan harapannya agar kegiatan semacam ini dapat terus diselenggarakan dan menginspirasi generasi muda untuk menjaga tradisi.

“Bagi saya, Angkin, mengikuti Festival Tari Remo adalah pengalaman yang luar biasa. Harapan saya, acara ini tidak berhenti di sini saja, tetapi bisa terus membakar semangat generasi muda untuk bangga menarikan dan menjaga tarian khas Jawa Timur ini. Semoga dentang gongseng Tari Remo terus bergema sebagai bukti bahwa budaya lokal kita tetap hidup dan dicintai,” ungkapnya.
Angkin merupakan siswi kelas VIII SMP Negeri 6 Sidoarjo yang juga tercatat sebagai Finalis Putri Pertiwi Jawa Timur 2026. Ia disebut meraih Juara 2 dalam ajang tingkat Provinsi Jawa Timur pada Agustus 2026.
Sebelumnya, Angkin juga memperoleh dukungan dari Wakil Bupati Sidoarjo, Mimik Idayana, dalam kiprahnya mewakili Kabupaten Sidoarjo di tingkat provinsi.
Merawat Warisan Maestro untuk Generasi Mendatang
Perjalanan Tari Remo Munali Patah menunjukkan bahwa pelestarian budaya membutuhkan kreativitas, pewarisan pengetahuan, serta ruang pertunjukan yang memungkinkan seni tradisional terus berkembang mengikuti zaman.
Peran maestro seperti Munali Patah menjadi bagian penting dalam perjalanan tersebut. Sementara itu, partisipasi ratusan penari dan keterlibatan generasi muda menjadi salah satu modal untuk menjaga keberlanjutan kesenian tradisional.
Melalui Festival Munali Patah 2026, masyarakat diharapkan semakin mengenal sejarah Tari Remo, menghargai kontribusi maestro asal Sidoarjo, serta menumbuhkan kebanggaan terhadap budaya daerah.
Dukungan keluarga, sekolah, pemerintah daerah, Dekesda, komunitas seni, dan masyarakat juga diperlukan agar generasi muda memiliki kesempatan lebih luas untuk belajar, berkarya, dan meneruskan warisan budaya kepada generasi berikutnya. (*).
Reporter : Sugi.





