SIDOARJO | JWI – Wakil Bupati Sidoarjo Hj. Mimik Idayana, S.AP., meresmikan Gedung Pelayanan Instalasi Dialisis RSUD Sidoarjo Barat, Selasa (15/9/2026). Kehadiran layanan cuci darah tersebut memperluas akses pelayanan kesehatan bagi masyarakat, khususnya di wilayah Sidoarjo Barat.
Peresmian dihadiri jajaran Forkopimda Kabupaten Sidoarjo, Ketua dan anggota DPRD Sidoarjo, Forkopimka Krian, para camat se-Kabupaten Sidoarjo, Pemerintah Desa Tambak Kemerakan, serta jajaran manajemen dan pegawai RSUD Sidoarjo Barat.

Direktur Utama RSUD Sidoarjo Barat, Abdillah Segaf al-Hadad, mengatakan rumah sakit telah menyiapkan 14 mesin dialisis. Sebanyak 12 mesin diperuntukkan bagi pasien reguler, satu mesin untuk pasien hepatitis, dan satu mesin sebagai cadangan.
Layanan dialisis mulai beroperasi sejak 1 September 2026 setelah melalui tahapan kesiapan pelayanan dan kredensialing dengan BPJS Kesehatan. Kesiapan sumber daya manusia juga diperkuat melalui pelatihan dokter umum dan perawat serta pendampingan dari Perhimpunan Nefrologi Indonesia (PERNEFRI) Jawa Timur.

Antusiasme masyarakat terhadap layanan tersebut cukup tinggi. Hingga hari peresmian, sekitar 30 pasien telah mendaftar, termasuk pasien dari luar Kabupaten Sidoarjo, di antaranya dari wilayah Mojokerto dan Pacet.
“Semaksimal mungkin kita mempermudah pasien dari mana pun. Kita selalu berupaya memberikan pelayanan yang terbaik,” ujar Abdillah.
Wabup Mimik: Layani Pasien dengan Senyum
Wabup Mimik mengapresiasi dibukanya layanan dialisis di RSUD Sidoarjo Barat. Menurutnya, keberadaan fasilitas tersebut sangat membantu masyarakat Sidoarjo Barat yang sebelumnya harus menempuh perjalanan lebih jauh untuk mendapatkan layanan cuci darah.

“Ini artinya kehadiran layanan ini benar-benar ditunggu oleh masyarakat,” kata Mimik.
Ia juga mengapresiasi dukungan RSUD Sidoarjo Barat, Dinas Kesehatan Sidoarjo, BPJS Kesehatan Cabang Sidoarjo, PERNEFRI Jawa Timur, tenaga kesehatan, serta seluruh pihak yang mendukung hadirnya layanan dialisis tersebut.
Namun, Mimik menekankan bahwa peningkatan kualitas rumah sakit tidak cukup hanya melalui pembangunan gedung dan penambahan fasilitas. Menurutnya, keramahan dan pelayanan yang humanis juga menjadi bagian penting dalam memberikan rasa nyaman kepada pasien.

“Orang sakit itu bukan datang ke rumah sakit untuk senang-senang. Mereka datang dalam kondisi membutuhkan pertolongan. Karena itu, layani masyarakat dengan senyum, keramahan dan keikhlasan,” tegasnya.
Mimik juga meminta petugas tidak menjadikan persoalan administrasi sebagai hambatan bagi pasien yang membutuhkan pertolongan.

“Kalau pasien lupa membawa surat atau dokumen administrasi, jangan dibuat ribut. Layani dulu, kemudian prosedurnya dilakukan berikutnya,” pesannya.
Ia menegaskan, rumah sakit merupakan bagian dari pelayanan publik. Karena itu, masyarakat harus memperoleh pelayanan yang mudah, cepat, ramah, dan manusiawi.
“Kita ini pelayan masyarakat. Mereka datang bukan dalam kondisi senang, tetapi dalam kondisi sakit. Jadi hargai dan perhatikan mereka,” ujarnya.

Mimik berharap Instalasi Dialisis RSUD Sidoarjo Barat terus dikembangkan dengan dukungan tenaga kesehatan yang profesional dan amanah. Dengan demikian, layanan tersebut tidak hanya meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan, tetapi juga memperluas akses masyarakat terhadap layanan cuci darah di Sidoarjo dan wilayah sekitarnya.
“Fasilitasnya harus semakin bagus, pelayanannya semakin baik, tenaga kesehatannya amanah, dan pasien merasa nyaman,” pungkasnya. (*)
Reporter : Sugi.






