Paguyuban Sendang Agung Gelar Malam Anggoro Kasih, Perkuat Tradisi dan Pelestarian Sejarah

SIDOARJO | JWI – Paguyuban Situs Sendang Agung menggelar Malam Anggoro Kasih di Situs Sendang Agung, Kelurahan Urangagung, Kecamatan Sidoarjo, Senin malam (19/10/2026). Kegiatan yang diisi dengan selamatan dan pemotongan tumpeng tersebut menjadi momentum ungkapan syukur atas hasil panen padi, pelestarian tradisi Jawa, sekaligus refleksi perjuangan masyarakat dalam menjaga lahan pertanian dan menggali potensi sejarah lokal.

Ketua Paguyuban Situs Sendang Agung, Siswo Adi Tjahyono, S.T., mengatakan, kegiatan tersebut tidak sekadar menjadi tradisi seremonial, tetapi juga sarana mempererat silaturahmi, membangun kebersamaan, dan menumbuhkan kesadaran untuk menjaga warisan budaya bagi generasi mendatang.

Menurutnya, gong besar yang menjadi bagian dari simbol kegiatan merepresentasikan keagungan Tuhan Yang Maha Kuasa. Sementara itu, selamatan tumpeng merupakan wujud rasa syukur atas karunia yang diberikan, termasuk hasil panen padi yang melimpah.

“Melalui Malam Anggoro Kasih ini, kami ingin terus belajar bersyukur, mempererat silaturahmi, dan merefleksikan apa yang telah kita lakukan. Tradisi Jawa seperti selamatan tumpeng harus terus dirawat agar nilai-nilai luhur yang terkandung di dalamnya tidak hilang oleh perkembangan zaman,” demikian pesan yang disampaikan dalam refleksi kegiatan tersebut.

Mengenang Perjuangan Mempertahankan Lahan Pertanian

Dalam kesempatan itu, Siswo juga mengingat kembali perjuangan masyarakat Urangagung sekitar dua dekade lalu ketika menghadapi rencana alih fungsi lahan pertanian seluas 15,5 hektare menjadi kawasan permukiman.

Saat itu, masyarakat berupaya menyampaikan aspirasi kepada sejumlah pihak, mulai dari instansi pertanian hingga pemerintah daerah dan pemerintah pusat. Warga menilai lahan tersebut memiliki produktivitas tinggi dan berpotensi menopang kebutuhan pangan masyarakat Urangagung maupun wilayah sekitarnya.

Perjuangan tersebut menjadi bagian penting dari perjalanan masyarakat dalam mempertahankan keberadaan lahan pertanian. Upaya itu sekaligus menunjukkan bahwa ketahanan pangan membutuhkan keterlibatan masyarakat, selain dukungan kebijakan pemerintah.

“Dua puluh tahun yang lalu, kami berjuang mempertahankan lahan pertanian karena kami meyakini tanah ini sangat produktif. Bagi kami, perjuangan menjaga pangan tidak bisa sepenuhnya diserahkan kepada orang lain. Masyarakat juga harus ikut bergerak dan menjaga apa yang menjadi sumber kehidupan bersama,” demikian inti pernyataan Siswo dalam refleksinya.

Seiring perjalanan waktu, kawasan yang selama ini dipertahankan sebagai lahan produktif juga menjadi perhatian masyarakat karena adanya temuan yang diduga menyimpan jejak kehidupan masa lampau.

Di kawasan Situs Sendang Agung, masyarakat menemukan struktur bata kuno, sumur, serta struktur lain yang diduga berkaitan dengan tata air dan aktivitas manusia pada masa lalu. Temuan tersebut mendorong paguyuban untuk terus menyuarakan pentingnya penelitian, pendokumentasian, dan pelestarian kawasan.

Meski demikian, penentuan usia, fungsi, serta konteks sejarah struktur tersebut masih memerlukan penelitian arkeologis yang sistematis dan dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah.

Dorong Sendang Agung Menjadi Pusat Pembelajaran

Lebih jauh, Situs Sendang Agung diharapkan tidak hanya dikenal sebagai tempat berlangsungnya tradisi masyarakat, tetapi juga dapat dikembangkan menjadi pusat pembelajaran atau study center yang terbuka bagi pelajar, mahasiswa, peneliti, komunitas budaya, petani, dan masyarakat umum.

Potensi kawasan ini dapat dikaji melalui berbagai bidang ilmu. Dari sisi sejarah dan arkeologi, penelitian dapat diarahkan untuk mengungkap karakteristik struktur kuno serta kemungkinan aktivitas manusia pada masa lampau.

Dari sisi pertanian, pengalaman masyarakat Urangagung mempertahankan lahan produktif dapat menjadi bahan pembelajaran mengenai ketahanan pangan, keberlanjutan lingkungan, dan pentingnya perlindungan lahan pertanian.

Sementara itu, tradisi Malam Anggoro Kasih, selamatan tumpeng, serta semangat gotong royong masyarakat dapat menjadi bahan kajian sosial dan kebudayaan yang relevan bagi generasi muda.

Siswo berharap potensi tersebut mendapat perhatian lebih luas melalui kerja sama antara masyarakat, pemerintah, perguruan tinggi, lembaga penelitian, sekolah, dan pegiat kebudayaan.

“Kami berharap Sendang Agung tidak hanya dipandang sebagai tempat berkumpul atau menjalankan tradisi. Kami ingin kawasan ini bisa menjadi ruang belajar bersama, tempat generasi muda mengenal sejarah, memahami budaya, belajar tentang pertanian, dan menumbuhkan kepedulian terhadap lingkungan,” demikian harapan yang sejalan dengan gagasan pengembangan Situs Sendang Agung sebagai pusat pembelajaran.

Menurut gagasan tersebut, pengembangan pusat pembelajaran perlu diawali dengan penelitian yang mendalam, dokumentasi temuan, penyusunan informasi sejarah yang terverifikasi, serta upaya perlindungan terhadap tinggalan yang ada.

Dengan demikian, potensi Situs Sendang Agung dapat dipelajari secara terbuka tanpa mengabaikan kaidah ilmiah dan prinsip pelestarian warisan budaya.

Tradisi, Ketahanan Pangan, dan Sejarah untuk Generasi Mendatang

Bagi masyarakat Urangagung, menjaga lahan pertanian dan merawat potensi sejarah merupakan dua upaya yang saling melengkapi. Tanah tidak hanya menjadi sumber penghidupan melalui hasil pertanian, tetapi juga berpotensi menyimpan jejak perjalanan kehidupan manusia yang perlu dipelajari.

Malam Anggoro Kasih menjadi momentum untuk memperkuat kesadaran bahwa rasa syukur tidak berhenti pada sebuah seremoni. Rasa syukur juga dapat diwujudkan melalui kepedulian sosial, kerja bersama, pelestarian budaya, dan tanggung jawab menjaga lingkungan.

Melalui kegiatan tersebut, Paguyuban Situs Sendang Agung berharap tradisi Jawa tetap hidup di tengah masyarakat sekaligus membuka ruang bagi pengembangan pengetahuan tentang sejarah dan kebudayaan Sidoarjo.

Ke depan, kolaborasi lintas sektor diharapkan dapat mendorong Situs Sendang Agung menjadi ruang edukasi yang mempertemukan sejarah, arkeologi, pertanian, sosial, dan budaya. Dengan penelitian yang terarah dan pelestarian yang berkelanjutan, potensi kawasan ini diharapkan memberi manfaat bagi masyarakat sekaligus menjadi sumber pembelajaran bagi generasi mendatang.

Situs Sendang Agung bukan hanya ruang untuk merawat tradisi, melainkan juga ruang untuk menumbuhkan rasa syukur, menjaga sumber pangan, dan membuka jalan bagi pengetahuan tentang masa lalu demi masa depan Sidoarjo. (*)

Reporter : Sugi.

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *