SIDOARJO | JWI – Berawal dari kepedulian terhadap pemanfaatan lahan tidur serta potensi tanaman obat tradisional, tiga warga Desa Wonokupang, Kecamatan Balongbendo, Kabupaten Sidoarjo, berhasil menghadirkan inovasi minuman herbal berbahan dasar tanaman kumis kucing (Orthosiphon aristatus) dengan merek Herbaroso.
Ketiga penggagas tersebut, Herwanto, Bambang Sutejo, dan Imam Suroso, membuktikan bahwa keberhasilan usaha tidak selalu harus diawali dengan modal besar. Melalui kerja keras dan semangat gotong royong, mereka mengubah lahan yang sebelumnya ditumbuhi tanaman pisang menjadi sentra budidaya kumis kucing yang kini memiliki nilai ekonomi.

Herwanto, yang sehari-hari bertugas sebagai anggota tenaga Korps Kesehatan di salah satu Kesatuan Matra TNI Angkatan Laut di Surabaya, mengatakan perjalanan membangun Herbaroso membutuhkan proses yang panjang, mulai dari pembibitan hingga menghasilkan produk teh herbal siap seduh.

“Awalnya kami mengubah kebun pisang menjadi lahan pembibitan tanaman kumis kucing. Kami juga memanfaatkan galon air minum bekas sebagai media tanam. Setelah berhasil, bibit kemudian kami kembangkan di lahan-lahan yang sebelumnya tidak produktif agar memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat,” ujar Herwanto, Sabtu (1/8/2026).
Keberhasilan budidaya tersebut kemudian mendorong mereka mengolah hasil panen menjadi teh herbal kumis kucing yang dikemas secara higienis dan praktis. Selain menjadi alternatif minuman herbal, produk ini juga diharapkan mampu meningkatkan nilai tambah hasil pertanian lokal.

Tak hanya menciptakan produk herbal, keberadaan Herbaroso turut membuka peluang ekonomi baru bagi warga sekitar. Sejumlah masyarakat kini ikut membudidayakan tanaman kumis kucing dan menjual hasil panennya kepada Herbaroso sebagai mitra binaan.
Salah satunya Mbah Suparto, petani sekaligus pencari barang bekas. Ia mengaku sebelumnya menanam singkong, namun hasilnya sering gagal akibat serangan hama tikus.

“Setelah belajar dari Pak Suyanto yang dibina Pak Herwanto, saya mulai menanam kumis kucing. Sekitar 40 hari sudah bisa dipanen, lalu hasilnya dibeli kembali oleh Herbaroso. Alhamdulillah, sekarang bisa membantu memenuhi kebutuhan keluarga,” katanya.

Testimoni Konsumen
Manfaat tanaman kumis kucing juga dirasakan oleh salah seorang konsumen Herbaroso, H. Rahmad (56). Ia mengaku telah rutin mengonsumsi Herbaroso Teh Kumis Kucing selama kurang lebih enam bulan.
Menurut Rahmad, sebelum mengonsumsi teh herbal tersebut dirinya sering merasakan nyeri pada bagian pinggang. Ia juga memiliki riwayat batu ginjal dan kerap mengalami batuk berkepanjangan.
” Alhamdulillah, setelah rutin mengonsumsi Herbaroso Teh Kumis Kucing, kondisi yang saya rasakan berangsur membaik. Keluhan yang dulu sering muncul sedikit demi sedikit mulai berkurang. Buang air kecil terasa lebih lancar dan lebih jernih. Hasil pemeriksaan kesehatan terakhir juga menunjukkan kondisi saya dalam keadaan normal. Saya tetap menjaga pola hidup sehat dan hingga sekarang masih rutin mengonsumsi Herbaroso sebagai bagian dari kebiasaan hidup sehat,” ungkap Rahmad.

Meski demikian, pengalaman yang disampaikan Rahmad merupakan testimoni pribadi berdasarkan pengalaman masing-masing individu dan bukan merupakan klaim ilmiah mengenai khasiat produk. Efektivitas suatu produk herbal dapat berbeda pada setiap orang, sehingga penggunaan herbal tetap dianjurkan disertai pola hidup sehat dan konsultasi kepada tenaga kesehatan apabila memiliki kondisi medis tertentu.

Kini, Herbaroso tidak hanya menjadi simbol lahirnya inovasi herbal dari Desa Wonokupang, tetapi juga menjadi contoh bagaimana pemanfaatan lahan tidur mampu menciptakan peluang usaha baru, memberdayakan masyarakat, serta mendorong tumbuhnya ekonomi berbasis pertanian dan tanaman obat tradisional.
Dengan semangat inovasi dan gotong royong, Herwanto bersama Bambang Sutejo dan Imam Suroso berharap budidaya kumis kucing terus berkembang, sehingga semakin banyak masyarakat yang merasakan manfaatnya, baik melalui peningkatan kesejahteraan ekonomi maupun pelestarian pemanfaatan tanaman herbal sebagai bagian dari gaya hidup sehat.(*).
Reporter: Sugi.





