SIDOARJO | JWI – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sidoarjo mempercepat normalisasi sungai di sejumlah wilayah untuk mengantisipasi potensi banjir menjelang musim hujan. Salah satu titik yang menjadi perhatian adalah Afvour Kedunguling Kiri di Desa Durungbanjar, Kecamatan Candi, yang mengalami pendangkalan akibat sedimentasi dan tumpukan sampah.
Wakil Bupati Sidoarjo Hj. Mimik Idayana, S.AP., meninjau langsung kondisi sungai tersebut, Senin (21/9/2026). Dalam sidak itu, ia juga menyoroti dugaan pencemaran limbah industri yang menyebabkan kondisi air sungai terlihat menghitam.

Normalisasi dilakukan dengan mengerahkan satu unit alat berat jenis ekskavator untuk mengeruk endapan lumpur dan sampah yang menumpuk di aliran sungai.
“Normalisasi sungai terus digencarkan menjelang musim hujan. Kami berinisiatif melakukan normalisasi karena melihat kondisi sungai ini sudah sangat parah akibat sedimentasi,” ujar Mimik saat meninjau lokasi.
Dalam kegiatan tersebut, Wabup Mimik didampingi Camat Candi Yuni Rismawati dan Kepala Desa Durungbanjar, Ujang.

Menurut Mimik, pengerukan sungai ditargetkan selesai sebelum musim hujan agar fungsi aliran air dapat kembali optimal, baik untuk menampung debit air hujan maupun mendukung kebutuhan irigasi pertanian.
“Kita ingin saat musim penghujan nanti, kondisi sungai mampu menampung air dengan maksimal. Kalau sungai dangkal seperti ini, persoalan banjir tidak akan terselesaikan,” tegasnya.

Wabup Mimik Soroti Dugaan Limbah Industri
Selain sedimentasi dan sampah, Mimik menyoroti kondisi air Afvour Kedunguling Kiri yang tampak hitam. Ia menduga kondisi tersebut berkaitan dengan pembuangan limbah dari sejumlah kegiatan industri di sekitar aliran sungai.
Limbah yang disoroti antara lain berasal dari usaha pengolahan tahu, cecek, dan industri plastik. Namun, dugaan sumber pencemaran tersebut masih memerlukan pemeriksaan lebih lanjut oleh instansi berwenang.

Mimik meminta pemerintah desa segera menyampaikan teguran kepada pihak-pihak yang diduga membuang limbah langsung ke sungai.
“Hari ini saya di Kecamatan Candi, di Desa Durungbanjar. Di sini sudah waktunya normalisasi dan ternyata sudah terjadi pendangkalan. Airnya juga sudah terkontaminasi limbah pabrik tahu, plastik, dan cecek. Kondisinya sangat hitam sekali,” ungkapnya.
Ia menegaskan, pembuangan limbah secara langsung ke sungai tidak boleh dibiarkan karena berpotensi memperburuk kondisi lingkungan.
“Hari ini Pak Kades Durungbanjar dan Durungbedug bersama Bu Camat Candi diminta membuat surat teguran. Kalau teguran pertama diabaikan, kemudian teguran kedua juga tidak direspons, nanti saya sendiri yang akan menindaklanjuti,” tegas Mimik.

Normalisasi Juga Dikebut di Tanggulangin
Selain di Kecamatan Candi, Pemkab Sidoarjo juga mempercepat normalisasi sungai di wilayah Kecamatan Tanggulangin sebagai bagian dari upaya mengurangi risiko banjir saat musim penghujan.
Pemkab Sidoarjo akan terus memantau dan mengontrol pelaksanaan pekerjaan di lapangan untuk memastikan normalisasi berjalan sesuai kebutuhan.
Kabid Sumber Daya Air (SDA) Dinas PU Bina Marga Sidoarjo, Suprayitno, menjelaskan bahwa pengerjaan normalisasi di wilayah Candi dan Tanggulangin terus dikebut sebelum musim hujan tiba.

Menurutnya, upaya tersebut dilakukan untuk meningkatkan kapasitas aliran sungai sekaligus mengantisipasi potensi luapan air yang dapat mengganggu aktivitas masyarakat.
Selain pengerukan sedimentasi, penguatan tanggul juga dilakukan untuk membantu mencegah luapan air ketika debit meningkat. Pekerjaan tersebut sekaligus diharapkan dapat memberikan akses jalan bagi para petani.
“Alhamdulillah, proses normalisasi ini berjalan lancar dan bermanfaat untuk banyak pihak,” ujar Suprayitno.
Pemkab Sidoarjo berharap percepatan normalisasi sungai di sejumlah wilayah dapat membantu mengurangi risiko banjir, menjaga kelancaran irigasi pertanian, serta meningkatkan kenyamanan aktivitas masyarakat menjelang musim hujan.
Reporter: Sugi
Java Watch Indonesia






