Dari Terapi Fasdhu hingga Budidaya Kumis Kucing, Herbaroso Dorong Pengembangan Herbal Masyarakat

MOJOKERTO | JWI – Ratusan warga memadati Aula Graha Umsida Desa Kemloko, Kecamatan Trawas, Kabupaten Mojokerto, Minggu (11/10/2026), untuk mengikuti pelayanan terapi tradisional fasdhu. Peserta datang dari sejumlah daerah, di antaranya Trawas, Ngoro, Sidoarjo, Pasuruan, hingga Jombang.

Kegiatan tersebut menjadi perhatian masyarakat yang ingin mendapatkan layanan terapi tradisional sekaligus berbagi pengalaman mengenai kondisi kesehatan mereka. Di sisi lain, pengembangan produk herbal juga dilakukan melalui Herbaroso, yang menghadirkan teh herbal kumis kucing siap konsumsi serta menyediakan bibit untuk dibudidayakan kembali oleh masyarakat.

Sejak pagi, warga terlihat mengantre untuk mendapatkan pelayanan fasdhu. Sejumlah peserta menyampaikan pengalaman pribadi setelah menjalani terapi tersebut secara berkala. Namun, testimoni tersebut belum dapat dijadikan bukti bahwa fasdhu mampu menyembuhkan penyakit tertentu.

Salah seorang peserta, Wito (53), warga Desa Tamiajeng, Kecamatan Trawas, mengaku memiliki riwayat penyakit jantung dan telah menjalani pengobatan selama kurang lebih dua tahun.

“Selama dua tahun saya minum obat tiga kali sehari. Sekali minum bisa sampai tujuh butir pil. Namun, keluhan masih sering kambuh hingga saya harus menjalani rawat inap di rumah sakit. Kalau kambuh, napas terasa sesak dan badan seperti tidak berdaya,” tutur Wito kepada awak media.

Wito mengatakan, dirinya mengenal fasdhu melalui informasi yang diperoleh anaknya dari seorang teman. Ia kemudian mendatangi Klinik Saranghiu Al Fasdhu di Dusun Girang, Desa Wonokupang, Kecamatan Balongbendo, Kabupaten Sidoarjo.

Menurut pengakuannya, setelah menjalani terapi setiap dua minggu sekali selama dua bulan, ia merasa kondisi tubuhnya lebih nyaman. Saat ini, Wito mengaku menjalani terapi tersebut sebulan sekali dan mengonsumsi teh herbal kumis kucing merek Herbaroso.

“Alhamdulillah, sekarang badan terasa lebih sehat dan saya merasa lebih nyaman menjalani aktivitas sehari-hari,” ujarnya.

Meski demikian, pengalaman Wito merupakan kesaksian pribadi dan tidak membuktikan bahwa fasdhu maupun teh herbal kumis kucing dapat menyembuhkan penyakit jantung. Pasien dengan riwayat penyakit jantung tetap perlu menjalani pemeriksaan, pengobatan, serta kontrol medis sesuai anjuran dokter. Terapi tradisional maupun konsumsi produk herbal tidak boleh dijadikan pengganti pengobatan yang telah direkomendasikan tenaga medis.

Pasien Gangguan Asam Lambung Turut Berbagi Pengalaman

Pengalaman lain disampaikan Ambar (47), warga Kecamatan Trawas, Kabupaten Mojokerto. Ia mengaku pernah mendapatkan diagnosis dokter terkait gangguan asam lambung yang berat. Menurut penuturannya, keluhan yang dialaminya terkadang membuat dirinya kehilangan kesadaran atau pingsan.

“Dulu kalau kambuh, saya sering pingsan. Alhamdulillah, sekarang saya merasa lebih baik. Terima kasih kepada Pak Herwanto dan Klinik Saranghiu Al Fasdhu yang telah membantu saya. Semoga tetap bisa memberikan pelayanan kepada masyarakat, terutama warga kecil yang membutuhkan,” ungkap Ambar.

Kesaksian Wito dan Ambar menggambarkan pengalaman subjektif pasien setelah mengikuti pelayanan fasdhu. Kendati demikian, efektivitas dan keamanan terapi tersebut untuk menangani penyakit kronis tetap perlu dinilai berdasarkan bukti ilmiah dan pemeriksaan medis.

Herwanto: Pelayanan Berangkat dari Kepedulian Sosial

Sementara itu, Herwanto (48), tenaga kesehatan TNI Angkatan Laut yang bertugas di kapal selam Ujung, Surabaya, mengatakan bahwa pelayanan fasdhu yang dijalankannya berangkat dari keinginan untuk membantu masyarakat, khususnya warga yang menghadapi keterbatasan ekonomi.

“Sejak awal, niat kami membuka Klinik Saranghiu Al Fasdhu adalah untuk membantu masyarakat yang memiliki keluhan kesehatan. Alhamdulillah, hingga saat ini kami telah melayani ribuan warga di wilayah Surabaya dan sekitarnya,” kata Herwanto.

Menurut dia, keterbatasan biaya masih menjadi salah satu persoalan yang dihadapi sebagian masyarakat ketika membutuhkan layanan kesehatan. Karena itu, ia berupaya memberikan pelayanan sesuai kemampuan dan kondisi warga yang datang.

“Kasihan masyarakat kecil yang sedang sakit dan harus berobat ke rumah sakit, tetapi terkendala biaya. Kalau punya BPJS Kesehatan tentu bisa terbantu, tetapi bagaimana dengan mereka yang belum memilikinya? Karena itu, kami ingin ikut membantu sesuai kemampuan,” tuturnya.

Terkait biaya pelayanan, Herwanto menyatakan tidak menetapkan tarif khusus bagi pasien yang datang ke tempat praktiknya. Ia mempersilakan pasien memberikan biaya secara sukarela sesuai kemampuan masing-masing.

“Untuk tarif, seikhlasnya pasien saja. Saya tidak mematok harga. Bahkan, ada pasien yang datang dan bercerita bahwa untuk kebutuhan makan sehari-hari saja mereka kesulitan. Bagi saya, membantu masyarakat merupakan bagian dari kepedulian kemanusiaan,” tambahnya.

Herbaroso Kembangkan Teh Herbal dan Bibit Kumis Kucing

Selain pelayanan fasdhu, pengembangan tanaman herbal melalui Herbaroso menjadi bagian lain dari upaya memperkenalkan pemanfaatan tanaman kepada masyarakat.

Herbaroso tidak hanya menyediakan bibit tanaman kumis kucing, tetapi juga mengolahnya menjadi teh herbal yang dikemas secara praktis agar dapat disiapkan dan dikonsumsi masyarakat dengan lebih mudah.

Produk teh herbal kumis kucing tersebut turut dipasarkan melalui media digital dan media sosial untuk menjangkau konsumen yang lebih luas. Sementara itu, penyediaan bibit ditujukan untuk membuka kesempatan bagi masyarakat yang ingin menanam dan membudidayakan kumis kucing secara mandiri.

Pengembangan ini mempertemukan tiga aspek, yakni pengolahan produk herbal, pemasaran digital, dan budidaya tanaman. Dengan demikian, kumis kucing tidak hanya diperkenalkan sebagai tanaman yang dapat dibudidayakan, tetapi juga sebagai bahan baku produk olahan yang memiliki nilai ekonomi.

Meski demikian, manfaat kesehatan teh herbal kumis kucing perlu disampaikan secara proporsional. Khasiat suatu produk tidak dapat dipastikan hanya berdasarkan testimoni konsumen atau penggunaan secara turun-temurun. Masyarakat perlu memperhatikan keamanan produk, informasi komposisi, aturan konsumsi, serta keterangan perizinan yang berlaku. Konsultasi dengan tenaga kesehatan juga penting, terutama bagi orang yang memiliki penyakit kronis atau sedang mengonsumsi obat-obatan.

Rangkaian kegiatan di Trawas tersebut memperlihatkan tingginya minat sebagian masyarakat terhadap terapi tradisional sekaligus peluang pengembangan tanaman herbal melalui produk siap konsumsi dan pembibitan. Namun, aspek keselamatan pasien, bukti ilmiah, serta informasi produk yang transparan tetap menjadi hal penting agar masyarakat dapat mengambil keputusan secara tepat. (*).

Reporter : Tim

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *