SIDOARJO | JWI – Memeriahkan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia, Herbaroso menggelar lomba meracik teh herbal kumis kucing di Dusun Girang, Desa Wonokupang, Kecamatan Balongbendo, Kabupaten Sidoarjo, Minggu (16/8/2026).
Kegiatan yang dimulai pukul 10.00 WIB tersebut berlangsung di kediaman Ketua RW 05 Herwanto. Lomba melibatkan warga RT 10 dan RT 11 di lingkungan RW 05 dengan konsep yang berbeda dari perlombaan Agustusan pada umumnya.

Para peserta ditantang meracik daun kumis kucing menjadi minuman herbal dengan cita rasa, aroma, warna, kreativitas, kebersihan, teknik pengolahan hingga cara penyajian yang menarik.
Bahan utama yang digunakan adalah daun kumis kucing. Peserta juga diperbolehkan menambahkan sejumlah rempah seperti jahe, secang, serai, kayu manis dan keningar. Sebagai pelengkap, peserta dapat menggunakan gula pasir dan garam sesuai konsep racikan masing-masing.

Panitia menghadirkan tiga juri untuk menilai hasil racikan peserta. Menariknya, lomba juga melibatkan juri cilik yang turut memberikan penilaian dari sudut pandang anak-anak.
Selain memperebutkan juara pertama, kedua dan ketiga, panitia juga menyediakan hadiah untuk juara harapan satu dan dua.
Ketua RW 05 sekaligus salah satu penggagas teh kumis kucing Herbaroso, Herwanto, mengatakan lomba tersebut sengaja dikemas berbeda untuk memeriahkan HUT ke-81 RI sekaligus mengenalkan kembali tanaman herbal yang banyak tumbuh di Indonesia.

“Memang sengaja kami membuat lomba yang lain daripada yang lain. Kami ingin memperkenalkan kembali tanaman obat herbal Indonesia, khususnya kumis kucing, kepada masyarakat,” ujar Herwanto.
Menurutnya, kegiatan tersebut tidak hanya berorientasi pada perlombaan, tetapi juga menjadi ruang edukasi bagi masyarakat mengenai pengolahan minuman herbal.

Herwanto berharap masyarakat semakin mengenal tanaman herbal yang berada di lingkungan sekitar dan dapat mengolahnya secara tepat.
“Kami berharap masyarakat ikut menanam, memproduksi, menikmati dan mengenal teh kumis kucing Herbaroso. Ini bagian dari upaya mengingatkan kembali bahwa Indonesia memiliki kekayaan tanaman herbal,” katanya.
Dalam penilaian, peserta tidak sekadar dituntut menghasilkan minuman yang enak. Juri juga memperhatikan karakter rasa, aroma, warna, teknik meracik, kebersihan, kreativitas serta cara penyajian.

Herwanto menjelaskan, karakter rasa dan aroma kumis kucing menjadi salah satu unsur penting dalam penilaian. Peserta diharapkan mampu mempertahankan karakter bahan utama sekaligus menciptakan perpaduan rasa dengan rempah pendamping.
“Aroma juga menjadi penilaian. Kumis kucing memiliki aroma khas yang harus tetap terasa dalam racikan,” jelasnya.

Warna minuman turut menjadi perhatian. Peserta diharapkan mampu menghasilkan tampilan minuman yang menarik, termasuk warna kuning keemasan yang menjadi salah satu karakter tampilan teh kumis kucing.
Dari proses lomba, panitia juga menemukan sejumlah peserta yang masih kurang tepat dalam teknik pengolahan dan peracikan. Kondisi tersebut justru menjadi bagian dari proses edukasi.

“Dari beberapa peserta yang kami cek, ternyata masih banyak kesalahan dalam teknik meracik. Ini justru menjadi bagian menarik dari lomba karena peserta bisa belajar cara mengolah teh herbal dengan benar,” ungkap Herwanto.
Aspek kebersihan juga menjadi kriteria penilaian, mulai dari kebersihan bahan, peralatan, proses peracikan hingga penyajian.

Sementara kreativitas peserta terlihat dari penggunaan bahan herbal pendamping. Peserta diberikan ruang untuk berinovasi dengan mengombinasikan kumis kucing dan berbagai rempah, kemudian menjelaskan alasan pemilihan bahan serta karakter minuman yang dihasilkan.
“Jadi bukan hanya membuat dan menyajikan teh. Peserta juga harus menjelaskan racikannya, bahan apa yang digunakan dan konsep dari racikan tersebut,” imbuh Herwanto.
Testimoni Warga
Di tengah kegiatan, cerita pengalaman warga turut menjadi perhatian. Salah satunya disampaikan Mak Tunik (68), warga RT 10 RW 05.

Mak Tunik mengaku sebelumnya sempat mendapat anjuran untuk menjalani operasi karena masalah batu empedu. Setelah mendapat saran dari Herwanto, ia kemudian rutin mengonsumsi teh herbal kumis kucing selama kurang lebih dua bulan.
Ia mengaku kondisi tubuhnya berangsur membaik dan menyebut tidak jadi menjalani operasi. Namun, pengalaman tersebut merupakan kesaksian pribadi Mak Tunik dan bukan kesimpulan medis mengenai khasiat teh kumis kucing.

“Alhamdulillah, berkat meminum teh herbal kumis kucing dari Pak Herwanto, berangsur pulih. Hari ini kulo saget tumut lomba meracik teh herbal kumis kucing di Pak Herwanto,” tutur Mak Tunik.
Kegiatan lomba tersebut sekaligus menjadi momentum warga untuk berkumpul dan memperingati HUT ke-81 Kemerdekaan RI dengan cara yang kreatif. Selain memeriahkan suasana Agustusan, kegiatan ini memperkenalkan kembali pemanfaatan tanaman herbal lokal melalui aktivitas yang melibatkan warga secara langsung. (*).
Reporter : Sugi.





