Sastra Jendra dan Sangkan Paraning Dumadi: Mencari Jati Diri di Tengah Hiruk Pikuk Zaman

Oleh: Sugi

Di tengah derasnya arus informasi, kemajuan teknologi, dan persaingan kehidupan modern, manusia sering kali kehilangan waktu untuk bertanya kepada dirinya sendiri: dari mana ia berasal, untuk apa ia hidup, dan ke mana ia akan kembali.
Pertanyaan-pertanyaan mendasar tersebut sesungguhnya telah lama menjadi bagian dari warisan kebijaksanaan leluhur Jawa yang dikenal dengan ajaran Sangkan Paraning Dumadi. Sebuah falsafah yang mengajarkan manusia untuk memahami asal-usul dan tujuan akhir kehidupannya.

Read More

Dalam bahasa Jawa, sangkan berarti asal, paran berarti tujuan, dan dumadi berarti segala sesuatu yang diciptakan. Maka, Sangkan Paraning Dumadi merupakan upaya manusia untuk memahami perjalanan eksistensinya sejak berasal dari Sang Pencipta hingga akhirnya kembali kepada-Nya.

Namun memahami hakikat hidup tidaklah cukup hanya melalui pengetahuan. Dibutuhkan sebuah laku, pengendalian diri, serta perjalanan batin yang panjang. Di sinilah ajaran Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu menemukan relevansinya.

Dalam khazanah budaya Jawa, Sastra Jendra sering dimaknai sebagai ilmu luhur yang mengajarkan manusia untuk memperbaiki kehidupan dunia sekaligus membersihkan dirinya dari sifat-sifat angkara murka. Kata pangruwating diyu dapat dimaknai sebagai upaya meruwat atau melepaskan manusia dari sifat “diyu” atau raksasa yang bersemayam dalam dirinya sendiri, seperti keserakahan, kesombongan, kebencian, iri hati, dan nafsu kekuasaan.

Sesungguhnya “diyu” terbesar bukanlah makhluk gaib yang menakutkan, melainkan ego manusia itu sendiri. Ketika keserakahan menguasai hati, jabatan dijadikan alat kepentingan pribadi. Ketika kesombongan merajalela, kebenaran sering dikalahkan oleh kepentingan. Ketika hawa nafsu menjadi penguasa, manusia kehilangan arah dan lupa pada tujuan hidupnya.

Karena itu, Sastra Jendra dapat dipahami sebagai jalan spiritual untuk mencapai pemahaman yang lebih dalam tentang Sangkan Paraning Dumadi. Jika Sangkan Paraning Dumadi berbicara tentang “asal dan tujuan”, maka Sastra Jendra mengajarkan “bagaimana cara menjalani perjalanan menuju tujuan tersebut”.

Leluhur Jawa mengajarkan bahwa manusia yang mengenal asal-usulnya akan hidup dengan rendah hati. Ia tidak mudah terjebak dalam kesombongan karena menyadari bahwa dirinya berasal dari tanah dan suatu saat akan kembali menjadi tanah. Ia tidak mudah tergoda oleh kekuasaan karena memahami bahwa semua yang dimiliki hanyalah titipan yang sewaktu-waktu dapat diambil kembali oleh Sang Pemilik Kehidupan.

Nilai-nilai ini terasa semakin penting di era sekarang. Ketika ukuran keberhasilan sering diukur dari materi, jabatan, dan popularitas, falsafah Jawa justru mengingatkan bahwa kemuliaan sejati terletak pada kemampuan manusia mengenal dirinya sendiri.

Pada akhirnya, baik Sastra Jendra maupun Sangkan Paraning Dumadi mengajarkan hal yang sama: manusia hendaknya tidak hanya sibuk mengejar dunia, tetapi juga memahami makna keberadaannya. Sebab kehidupan bukan sekadar tentang datang dan pergi, melainkan tentang bagaimana seseorang menjalani perjalanan hidup dengan kesadaran, kebijaksanaan, dan tanggung jawab.

Mungkin inilah pesan yang ingin diwariskan para leluhur kepada generasi masa kini: sebelum berusaha memahami dunia, kenalilah terlebih dahulu diri sendiri. Karena ketika manusia mengenal dirinya, ia akan mengenal asal-usulnya. Dan ketika ia mengenal asal-usulnya, ia akan memahami ke mana sesungguhnya ia harus kembali.

“Urip iku mung mampir ngombe, nanging aja nganti lali saka ngendi lan arep menyang ngendi.”


(Hidup itu hanya singgah untuk minum, tetapi jangan sampai lupa dari mana berasal dan ke mana akan kembali.)

Redaksi JWI

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *