SIDOARJO | JWI – Upaya optimalisasi lahan tidur melalui sektor hortikultura mulai menunjukkan hasil konkret di Kecamatan Tulangan, Kabupaten Sidoarjo. Wakil Bupati Sidoarjo, Hj. Mimik Idayana, menghadiri panen klengkeng yang dinilai sukses menjadi model pengelolaan produktif tanah kas desa (TKD), Selasa (31/03/2026).
Dalam kunjungannya, Wabup Sidoarjo Hj.Mimik Idayana mengapresiasi inovasi pemanfaatan TKD yang dikelola melalui skema kerja sama dengan pihak ketiga.

Menurutnya, pola tersebut mampu menghadirkan nilai ekonomi sekaligus memberdayakan potensi desa.
“Lahan kebun klengkeng ini merupakan tanah kas Desa Kureksari, Waru, yang disewakan kepada pihak ketiga, yakni Mas Yulianto. Ini contoh kolaborasi yang baik antara pemerintah desa dan masyarakat,” ujarnya kepada wartawan.

Ia menegaskan, keberhasilan kebun klengkeng tersebut tidak hanya berdampak pada peningkatan pendapatan, tetapi juga membuka peluang pengembangan pertanian modern berbasis desa.
Dari sekitar 300 pohon klengkeng yang ditanam, kebun tersebut mampu menghasilkan kurang lebih 5 ton buah dalam kurun waktu tujuh bulan. Capaian ini dinilai cukup tinggi dan berpotensi untuk direplikasi di wilayah lain.

“Kegiatan ini merupakan ide kreatif yang mampu menghidupkan lahan tidur. Ke depan, kebun klengkeng ini bisa menjadi lokasi studi tiru bagi desa-desa lain di Sidoarjo,” tambahnya.
Sementara itu, Yulianto selaku pengelola kebun mengungkapkan telah menggarap lahan TKD tersebut selama lima tahun terakhir. Ia menyebut panen kali ini merupakan panen kedua dengan hasil yang lebih optimal.

“Tahun ini panen kedua, dan alhamdulillah hasilnya sangat memuaskan. Buahnya lebat dan kualitasnya juga bagus,” katanya.
Menariknya, Yulianto mengaku awal menekuni budidaya klengkeng berangkat dari pengalaman pribadi, bukan latar belakang pertanian.

“Awalnya karena istri saya ngidam klengkeng saat hamil anak pertama. Dari situ saya mulai belajar. Meski latar belakang saya ekonomi, alhamdulillah sekarang bisa berkembang,” jelasnya.
Keberhasilan ini diharapkan dapat menjadi inspirasi bagi desa-desa lain dalam mengelola aset desa secara produktif, sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi berbasis pertanian hortikultura. (*)





